Pandemi COVID-19 di Indonesia belum berakhir, namun masyarakat bersiap menuju new normal atau tatanan baru. Dengan kondisi tersebut, maka siapa saja masih berisiko terinfeksi virus corona termasuk bayi dan anak-anak.
Dalam situs Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI dikatakan, hingga 18 Mei 2020 terdapat 3.324 anak berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Selain itu, sebanyak 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak meninggal akibat COVID-19. Temuan ini menunjukkan, anak tidak rentan terhadap COVID-19 adalah salah.
"Temuan ini menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia tinggi dan membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19 atau hanya akan menderita sakit ringan saja," kata Ketua Umum IDAI Aman B Pulungan.
"Pada awal mula pandemi, diperkirakan anak-anak tidak akan terinfeksi oleh virus corona, namun kini jelas bahwa beberapa anak terinfeksi virus ini, sama seperti orang-orang dewasa," jelas Andrew Pollard, profesor infeksi dan imunitas anak di Universitas Oxford, Inggris.
"Hanya saja, ketika mereka terinfeksi, mereka mengalami gejala yang jauh lebih ringan."
Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China melaporkan bahwa anak-anak di bawah 19 tahun, merupakan 2% dari 72.314 kasus Covid-19 yang dicatat pada 20 Februari silam.
Sementara, sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan terhadap 508 pasien, melaporkan tidak ada kasus kematian di antara anak-anak. Anak-anak hanya mencakup kurang dari 1% pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
"Bisa jadi virus tersebut telah mempengaruhi orang dewasa pada saat ini karena telah terjadi penularan di tempat kerja dan penularan selama mereka dalam perjalanan," kata Sanjay Patel, seorang konsultan penyakit menular anak di Southampton Children's Hospital.
"Sekarang orang dewasa menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka, kita mungkin melihat peningkatan infeksi pada anak-anak, tetapi mungkin juga tidak."
Seluruh tren global tampaknya menunjukkan bahwa anak-anak lebih aman dari infeksi virus corona ketimbang orang dewasa, terutama orang lanjut usia, namun sangat mungkin data ini mengalami bias karena di beberapa negara, pengujian hanya dilakukan terhadap mereka yang dirawat di rumah sakit dengan gejala Covid-19 yang parah, sangat sedikit di antaranya adalah anak-anak.
"Jelas, lebih banyak anak yang terinfeksi dari pada yang kita duga," kata Patel.
"Kita tidak menguji setiap anak di negara ini."
Panduan Klinis Tata Laksana COVID-19 pada Anak dari IDAI menjelaskan sejumlah gejala dan ciri-ciri virus corona pada bayi dan anak. Gejala tersebut ditanyakan dokter kepada pasien saat berkomunikasi (anamnesis) untuk menegakkan diagnosis penyakit.
Ini gejala dan ciri-ciri virus corona pada bayi dan anak serta faktor risikonya:
A. Gejala virus corona
1. Gejala sistemik: demam, malaise, fatigue, nyeri kepala, mialgia
2. Gejala saluran pernapasan: batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, sesak napas
3. Gejala lain: diare, mual, muntah.
Malaise adalah perasaan tidak nyaman, pegal-pegal, dan lelah tanpa alasan yang jelas. Sedangkan fatigue adalah kelelahan yang berdampak pada aktivitas dan produktivitas setiap hari. Fatigue kerap disertai rasa letih dan lemah.
Gejala dan ciri-ciri virus corona pada bayi dan anak myalgia adalah istilah medis untuk nyeri otot. Kondisi nyeri otot bisa terjadi di seluruh tubuh hingga terasa sangat tidak nyaman.
B. Faktor risiko virus corona
1. Kontak erat dengan PDP, kasus probabel, atau kasus terkonfirmasi COVID-19
2. Tinggal atau bepergian ke negara atau area terjangkit.
Dengan mengetahui gejala dan ciri-ciri virus corona pada bayi dan anak, masyarakat diingatkan pentingnya melakukan pencegahan. Misal jaga jarak dan menghindari kontak fisik yang berisiko penularan, contohnya mencium bayi.
Graham Roberts, konsultan dokter anak di Universitas Southampton menjelaskan: "Anak-anak dengan Covid-19 kebanyakan terdampak di saluran pernapasan atas mereka (hidung, mulut dan tenggorokan) sehingga mereka tampak seperti mengalami demam saja."
"Berbeda dengan ketika virus berhasil mengakses saluran pernapasan bawah, seperti paru-paru, dan menunjukkan gejala seperti pneumonia dan gejala penyakit mematikan Sars yang kita lihat pada orang dewasa," tambahnya kemudian.
Proporsi anak-anak yang terjangkit Covid-19 yang parah atau kritis dengan sesak napas, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), dan syok jauh lebih rendah (6%) dibandingkan di antara orang dewasa di Cina (19%) - terutama orang lanjut usia dengan penyakit kardiovaskular atau pernapasan yang kronis.
Sebagian kecil anak-anak (1%) tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi sama sekali, meskipun terinfeksi virus. Sebagai perbandingan, hanya 1% dari orang dewasa yang terinfeksi tanpa gejala.
Masyarakat sebaiknya tetap tinggal dan melakukan kegiatan di rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Anggota keluarga yang terpaksa keluar rumah wajib melakukan pengendalian infeksi selama beraktivitas, maupun ketika sudah sampai di rumah. Upaya tersebut diharapkan bisa mencegah munculnya gejala dan ciri-ciri virus corona pada bayi dan anak.
Sumber:
https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-52188757
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5065519/gejala-dan-ciri-ciri-virus-corona-pada-bayi-dan-anak-wajib-waspada
No comments:
Post a Comment